You can visit my mobile version blog at http://blogpoenyabudi.blogspot.com/?m=1

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan?

REPUBLIKA.CO.ID, Uang bisa membeli banyak hal di dunia ini. Ada istilah "Ada uang, Abang disayang. Tak ada uang, Abang ditendang." Istilah itu seakan menggambarkan bahwa rasa sayang seseorang dihitung berdasarkan kadar uang yang dimiliki pasangannya. Sedemikian berkuasanya uang dalam kehidupan. Namun, bisakah uang membeli kebahagiaan?

Menurut satu polling yang dilakukan oleh para peneliti di Marist Institute for Public Opinion di Marist College, Amerika Serikat, pendapatan tahunan sebesar 50 ribu dolar AS (Rp 458 juta) mencukupi untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang. Uang sebesar itu cukup pula bagi seseorang untuk merasa bahagia dan puas atas kehidupannya.


Continue Reading

Perspektif 05 December 2011

Tuhan Menghendaki Kebenaran
Bacaan hari ini: Amsal 21:1-3
“Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban.” (Amsal 21:3)

Dalam dunia bisnis dan persaingan bebas seperti sekarang ini, memperoleh keuntungan telah menjadi prioritas utama daripada mempertahankan kualitas dan nilai-nilai bisnis yang dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun, masih ada juga orang-orang tertentu yang mempertahankan kualitas dengan segmen pembeli kelas menengah ke atas, namun persaingan bebas telah membuka peluang bagi pebisnis yang memasarkan produk non-kualitas dengan harga yang sangat murah. Inilah dunia persaingan, sehingga “siapa yang menguasai pasar dan pelanggan, dia adalah sang pemenang!”

Namun, pernahkah kita mencermati bahwa dunia persaingan hari ini juga telah menciptakan mentalitas yang rendah dalam diri seseorang? Apa artinya? Implikasi (hubungan) dari persaingan yang tidak sehat semacam itu, telah membuat orang tidak lagi peduli terhadap nilai dan kualitas produksi, yang penting produknya laku di pasaran dan memperoleh untung sebesar-besarnya.


Continue Reading

Perspektif 04 December 2011

Amarah Manusia
Bacaan hari ini: Efesus 4:26
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” (Efesus 4:26)

Amarah adalah suatu perasaan tidak suka terhadap seseorang atau sesuatu yang telah melukai atau bersalah kepada kita. Perasaan ini dapat berlangsung sesaat, datang dan pergi begitu saja, tapi dapat juga berlangsung lama, dalam bentuk kepahitan, kekecewaaan maupun kebencian. Amarah dapat bersifat destruktif jika mendorong kita melakukan kekerasan, tidak mengampuni, atau membalas dendam; amarah bisa juga bersifat konstruktif bila hal ini mendorong kita mengoreksi ketidakadilan atau berpikir kreatif.

Bagaimana kita dapat mengendalikan amarah kita? Pada saat marah, adalah sangat penting meminta pertolongan Tuhan supaya kita bisa tenang kembali. Telitilah, apakah yang menjadi pencetus kemarahan kita. Apakah kita telah membuat tuntutan-tuntutan yang tidak realitis terhadap diri orang lain? Apakah kita kurang sabar; apakah kita selalu minta dituruti? Apakah kita memberikan pengharapan-pengharapan yg tidak realistis dan meminta orang lain menebak apa yang kita inginkan, kemudian kita menjadi marah bila mereka melakukan kesalahan?


Continue Reading

Perspektif 03 December 2011

Bersinar Bagi Kristus
Bacaan hari ini: Filipi 2:12-18
“Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda,... tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” (Filipi 2:15)

Berbicara tentang “bersinar bagi Kristus,” berarti berbicara tentang memberi dampak bagi orang lain yang dalam kegelapan, bengkok hati dan sesat.” Dalam ay. 14, Paulus memberikan bagi kita sebuah cara untuk “bersinar bagi Kristus,” yakni melakukan segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Maka dalam ayat ke-15, Paulus memberikan standar, kapan kita harus bersinar bagi Kristus.

Menarik sekali bahwa dalam ay. 15 ini, Paulus memakai dua sinonim kata, yakni “tiada beraib dan tiada bernoda” dan “bengkok hati dan sesat.” Dalam dunia sastra, pemakaian 2 kata sinonim yang bersamaan, biasanya bertujuan untuk memberikan penekanan; sehingga frase “tiada beraib dan tiada bernoda” ini diartikan “sungguh-sungguh saleh dan baik”; sementara “bengkok hati dan sesat” diartikan sebagai “sungguh-sungguh jahat atau keadaan yang benar-benar korup hati dan pemikirannya.” Dari sini kita bisa melihat bahwa standar yang ditetapkan untuk bersinar bagi Kristus, berarti sungguh-sungguh baik (bukan sekadar “baik”), meski ada di tengah orang-orang yang sungguh-sungguh jahat.


Continue Reading

Perspektif 28 November 2011

Kedaulatan Tuhan
Bacaan hari ini: Rut 2:8-23
“TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung.” (Rut 2:12)

Seringkali kita berpendapat, bahwa Tuhan tidak terlibat dalam urusan-urusan kecil dalam hidup kita. Tuhan hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan besar! Terlalu repot bagi Dia untuk mengurusi hal-hal yang sepele. Ini adalah pemikiran yang salah! Jika kita percaya, bahwa Tuhan mengatur dan memelihara segala makhluk hidup atau ciptaan-Nya, maka kita harus percaya, bahwa Tuhan pun terlibat dalam perkara-perkara kecil hidup kita, sekalipun kita tidak menyadarinya. Inilah yang Rut alami. Tuhan terlibat dalam semua aspek kehidupannya, termasuk perkara-perkara kecil.

Pertama, berjumpa dengan Boas. Berjumpa kerabat adalah hal yang lumrah, karena masih memiliki pertalian saudara. Namun, perjumpaan Rut dan Boas bukanlah sesuatu yang kebetulan saja terjadi. Sekalipun Alkitab mencatat, bahwa “kebetulan” saja Rut berada di ladang Boas, tetapi hal ini tidak menjelaskan sesuatu yang terjadi tanpa Tuhan yang mengerjakannya (Rut 2:3). Dari perkataan Boas, kita mendapatkan konfirmasi iman Rut dan pemeliharaan Allah, yang disebut Boas sebagai upah dari Tuhan (bnd. Ibr. 11:6). Pernyataan Boas ini mengingatkan kepada kita, bahwa Allah terlibat dalam seluruh aspek kehidupan kita. Paulus pernah berkata: “Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan, bagi mereka yang mengasihi-Nya” (Rm. 8:28).


Continue Reading