You can visit my mobile version blog at http://blogpoenyabudi.blogspot.com/?m=1

Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan

Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan?

REPUBLIKA.CO.ID, Uang bisa membeli banyak hal di dunia ini. Ada istilah "Ada uang, Abang disayang. Tak ada uang, Abang ditendang." Istilah itu seakan menggambarkan bahwa rasa sayang seseorang dihitung berdasarkan kadar uang yang dimiliki pasangannya. Sedemikian berkuasanya uang dalam kehidupan. Namun, bisakah uang membeli kebahagiaan?

Menurut satu polling yang dilakukan oleh para peneliti di Marist Institute for Public Opinion di Marist College, Amerika Serikat, pendapatan tahunan sebesar 50 ribu dolar AS (Rp 458 juta) mencukupi untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang. Uang sebesar itu cukup pula bagi seseorang untuk merasa bahagia dan puas atas kehidupannya.


Continue Reading

Perspektif 05 December 2011

Tuhan Menghendaki Kebenaran
Bacaan hari ini: Amsal 21:1-3
“Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban.” (Amsal 21:3)

Dalam dunia bisnis dan persaingan bebas seperti sekarang ini, memperoleh keuntungan telah menjadi prioritas utama daripada mempertahankan kualitas dan nilai-nilai bisnis yang dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun, masih ada juga orang-orang tertentu yang mempertahankan kualitas dengan segmen pembeli kelas menengah ke atas, namun persaingan bebas telah membuka peluang bagi pebisnis yang memasarkan produk non-kualitas dengan harga yang sangat murah. Inilah dunia persaingan, sehingga “siapa yang menguasai pasar dan pelanggan, dia adalah sang pemenang!”

Namun, pernahkah kita mencermati bahwa dunia persaingan hari ini juga telah menciptakan mentalitas yang rendah dalam diri seseorang? Apa artinya? Implikasi (hubungan) dari persaingan yang tidak sehat semacam itu, telah membuat orang tidak lagi peduli terhadap nilai dan kualitas produksi, yang penting produknya laku di pasaran dan memperoleh untung sebesar-besarnya.


Continue Reading

Perspektif 04 December 2011

Amarah Manusia
Bacaan hari ini: Efesus 4:26
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” (Efesus 4:26)

Amarah adalah suatu perasaan tidak suka terhadap seseorang atau sesuatu yang telah melukai atau bersalah kepada kita. Perasaan ini dapat berlangsung sesaat, datang dan pergi begitu saja, tapi dapat juga berlangsung lama, dalam bentuk kepahitan, kekecewaaan maupun kebencian. Amarah dapat bersifat destruktif jika mendorong kita melakukan kekerasan, tidak mengampuni, atau membalas dendam; amarah bisa juga bersifat konstruktif bila hal ini mendorong kita mengoreksi ketidakadilan atau berpikir kreatif.

Bagaimana kita dapat mengendalikan amarah kita? Pada saat marah, adalah sangat penting meminta pertolongan Tuhan supaya kita bisa tenang kembali. Telitilah, apakah yang menjadi pencetus kemarahan kita. Apakah kita telah membuat tuntutan-tuntutan yang tidak realitis terhadap diri orang lain? Apakah kita kurang sabar; apakah kita selalu minta dituruti? Apakah kita memberikan pengharapan-pengharapan yg tidak realistis dan meminta orang lain menebak apa yang kita inginkan, kemudian kita menjadi marah bila mereka melakukan kesalahan?


Continue Reading

Perspektif 03 December 2011

Bersinar Bagi Kristus
Bacaan hari ini: Filipi 2:12-18
“Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda,... tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” (Filipi 2:15)

Berbicara tentang “bersinar bagi Kristus,” berarti berbicara tentang memberi dampak bagi orang lain yang dalam kegelapan, bengkok hati dan sesat.” Dalam ay. 14, Paulus memberikan bagi kita sebuah cara untuk “bersinar bagi Kristus,” yakni melakukan segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Maka dalam ayat ke-15, Paulus memberikan standar, kapan kita harus bersinar bagi Kristus.

Menarik sekali bahwa dalam ay. 15 ini, Paulus memakai dua sinonim kata, yakni “tiada beraib dan tiada bernoda” dan “bengkok hati dan sesat.” Dalam dunia sastra, pemakaian 2 kata sinonim yang bersamaan, biasanya bertujuan untuk memberikan penekanan; sehingga frase “tiada beraib dan tiada bernoda” ini diartikan “sungguh-sungguh saleh dan baik”; sementara “bengkok hati dan sesat” diartikan sebagai “sungguh-sungguh jahat atau keadaan yang benar-benar korup hati dan pemikirannya.” Dari sini kita bisa melihat bahwa standar yang ditetapkan untuk bersinar bagi Kristus, berarti sungguh-sungguh baik (bukan sekadar “baik”), meski ada di tengah orang-orang yang sungguh-sungguh jahat.


Continue Reading

Perspektif 28 November 2011

Kedaulatan Tuhan
Bacaan hari ini: Rut 2:8-23
“TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung.” (Rut 2:12)

Seringkali kita berpendapat, bahwa Tuhan tidak terlibat dalam urusan-urusan kecil dalam hidup kita. Tuhan hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan besar! Terlalu repot bagi Dia untuk mengurusi hal-hal yang sepele. Ini adalah pemikiran yang salah! Jika kita percaya, bahwa Tuhan mengatur dan memelihara segala makhluk hidup atau ciptaan-Nya, maka kita harus percaya, bahwa Tuhan pun terlibat dalam perkara-perkara kecil hidup kita, sekalipun kita tidak menyadarinya. Inilah yang Rut alami. Tuhan terlibat dalam semua aspek kehidupannya, termasuk perkara-perkara kecil.

Pertama, berjumpa dengan Boas. Berjumpa kerabat adalah hal yang lumrah, karena masih memiliki pertalian saudara. Namun, perjumpaan Rut dan Boas bukanlah sesuatu yang kebetulan saja terjadi. Sekalipun Alkitab mencatat, bahwa “kebetulan” saja Rut berada di ladang Boas, tetapi hal ini tidak menjelaskan sesuatu yang terjadi tanpa Tuhan yang mengerjakannya (Rut 2:3). Dari perkataan Boas, kita mendapatkan konfirmasi iman Rut dan pemeliharaan Allah, yang disebut Boas sebagai upah dari Tuhan (bnd. Ibr. 11:6). Pernyataan Boas ini mengingatkan kepada kita, bahwa Allah terlibat dalam seluruh aspek kehidupan kita. Paulus pernah berkata: “Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan, bagi mereka yang mengasihi-Nya” (Rm. 8:28).


Continue Reading

Perspektif 27 November 2011

Pemimpin yang Baik
Bacaan hari ini: 1 Raja-raja 3:1-15
“Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat...” (1 Raja-raja 3:9)

Setiap orang dapat menjadi pemimpin; namun tidak semua orang bisa menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik juga bukan berarti bahwa ia adalah seorang yang dapat menyenangkan semua orang; atau memuaskan semua keinginan orang. Jika demikian, bagaimanakah seseorang dapat menjadi pemimpin Kristen yang baik?

Pertama, menaati perintah Tuhan. Integritas seorang pemimipin tidak dapat diukur dari kedudukan/jabatan yg diembannya. Artinya, kedudukan seseorang yang semakin tinggi, tidak berarti secara otomatis membuktikan bahwa dirinya semakin berintegritas. Integritas seorang pemimpin Kristen hanya dapat diukur dari ketaatannya terhadap perintah Tuhan. Semakin seorang pemimpin taat kepada Tuhan, maka semakin efektif pula segala yang dikerjakannya. Itu sebabnya, selama Salomo dapat menaati perintah Tuhan, kepemimpinannya menjadi semakin efektif dan kerajaannya pun semakin kokoh (1Raj. 2:46).


Continue Reading

Perspektif 26 November 2011

Ketika Keadilan Tuhan Dinyatakan
Bacaan hari ini: 1 Raja-raja 2:13-46
“Raja memberi perintah kepada Benaya bin Yoyada, lalu keluarlah Benaya, dipancungnya Simei sehingga mati. Demikianlah kerajaan itu kokoh di tangan Salomo.” (1 Raja-raja 2:46)

Jika kita membaca 1 Raja-raja 2:13-46, maka kita akan terkejut dan bertanya: “Mengapa Salomo harus membunuh sejumlah orang untuk mengokohkan kerajaannya?” Apakah membunuh mereka merupakan langkah terbaik untuk mengkokohkan kerajaannya?!” Jika kita membaca teks Alkitab tersebut sepintas lalu, maka kita akan berpendapat, bahwa Salomo adalah seorang pemimpin yang bengis atau kejam terhadap musuh-musuhnya. Namun, jika kita mengerti latar belakang dan persoalan yang dihadapi Salomo, maka kita akan menemukan pengajaran yang baik di dalamnya.

Pertama, keadilan Tuhan. Pembunuhan yang dilakukan Salomo terhadap para musuhnya merupakan perwujudan keadilan Tuhan (Ams. 16:10).


Continue Reading

Perspektif 25 November 2011

Kesombongan Berbuah Petaka
Bacaan hari ini: Bilangan 12:1-16
“‘Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?’ Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN.” (Bilangan 12:2)

Penulis Kitab Amsal mengingatkan, bahwa “kesombongan” merupakan kekejian bagi Tuhan (Ams. 6:17). Namun, “kesombongan” ini seringkali menggoda manusia untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih “hebat” dari orang lain. Bahkan sekalipun kapasitas dan kapabilitasnya mendukung pengakuannya, tetapi “mata dan hati yang sombong” tetap saja dibenci oleh Tuhan.

Dalam perkara Harun dan Miryam ini, kita belajar, bahwa Allah sangat membenci kesombongan. Sekalipun mereka adalah orang yang lebih tua dari Musa (kakak Musa), dan sepatutnya menerima penghormatan, tapi perkataan mereka tentang diri mereka dan Musa, adalah kesombongan pribadi. Pertama, mereka lupa bahwa mereka hanyalah hamba Tuhan. Kalimat “Sungguhkah Tuhan berfirman dengan perantaraan Musa saja?” Mengindikasikan, “mereka mengangkat diri mereka,


Continue Reading

Perspektif 24 November 2011

Tuhan Penuntun Hidupku
Bacaan hari ini: Yakobus 4:15
“Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yakobus 4:15)

Surat Yakobus adalah surat praktis, yang sarat dengan hal-hal praktis. Kita bisa mengerti maksud penulis dengan mudah dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Penerima surat adalah “kedua belas suku Israel di perantauan” (Yak. 1:1). Kemungkinan besar, mereka adalah orang-orang Kristen, yang melarikan diri ke berbagai daerah seperti Fenisia, Siprus dan Antiokhia di Siria, setelah peristiwa kematian Stefanus karena aniaya. Yakobus menulis surat ini dengan tujuan, supaya mereka memiliki perbuatan baik, diikuti pula dengan iman yang murni. Surat ini juga ditujukkan kepada kita sebagai “para perantau di dunia ini.” Dalam Yakobus 4:13-15, penulis surat berbicara tentang mengikutsertakan Tuhan dalam segala rencana hidup kita. Mengapa demikian?

Pertama, karena kita tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan (ay. 13-14). Manusia memiliki banyak impian serta cita-cita. Demikian pula dengan kita, memiliki semangat dan kemampuan untuk dapat melakukan segala yang kita inginkan.


Continue Reading

Perspektif 23 November 2011

Kebahagiaan Orang Benar
Bacaan hari ini: Mazmur 112:1-10
“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.” (Mazmur 112:1)

Dalam Perjanjian Lama, kita sering menjumpai korelasi iman dan berkat, yang bagi kita pada masa kini, mirip dengan ajaran “teologi sukses.” Sebagai contoh adalah Mazmur 112; di dalamnya, Anda menemukan, bahwa pemazmur sedang mengungkapkan berkat-berkat dan kesuksesan dari mereka yang takut akan Tuhan. Jika demikian, apa perbedaan antara pengakuan pemazmur dengan teologi sukses?

Pertama, sikap terhadap “materi” dan “kesuksesan.” Apabila kita memperhatikan ungkapan pemazmur tentang “berkat” dan “kesuksesan,” maka hal itu merupakan suatu konklusi atau hasil dari seseorang yang takut akan Allah; bukan konklusi “keegoisan diri manusia” terhadap materi atau kesuksesan yang diharapkannya. Artinya, berkat dan kesuksesan bukanlah hasil “klaim dirinya” terhadap Allah,


Continue Reading

Perspektif 22 November 2011

Etika Bekerja: Menjadi Orang Aman
Bacaan hari ini: Daniel 6:1-5
“Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apa pun atau sesuatu kesalahan...” (Daniel 6:5)

Walaupun sebagai seorang budak tawanan perang, Daniel dikenal sebagai seorang pegawai tinggi kerajaan. Dan bukan hanya satu kerajaan, tapi dipekerjakan di dalam tiga masa kerajaan: Babel (Raja Nebukadnezar dan Raja Belsyazar) serta Media (Raja Darius). Hal ini menyatakan profil Daniel sebagai seorang pekerja yang luar biasa. Apa rahasianya?

Dalam perikop yang telah kita simak ini, secara khusus pada ayat ke-5, dicatat sebuah kesaksian yang luar biasa mengenai Daniel. Ia ditemukan sebagai seorang yang tidak ada kesalahan di dalam pekerjaannya. Yang lebih menarik, sang pemeriksa atau tim audit bukanlah rekan atau sahabat, melainkan musuh (orang yang benci kepada) Daniel. Posisi sebagai musuh ini seharusnya memudahkan pihak lawan untuk melihat banyak cela, tapi tidak demikian dengan Daniel. Dikatakan, tak ada satu kesalahanpun yang ditemukan di dalam segala pekerjaan yang dilakukannya. Pertanyaannya, apa yang menjadi kunci Daniel untuk dapat bekerja dengan demikian benar dan baik?


Continue Reading

Perspektif 21 November 2011

Injil untuk Seisi Keluarga
Bacaan hari ini: Kisah Para Rasul 16:19-32
“Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?’ Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’” (Kisah Para Rasul 16:30-31)

Sebenarnya, pertanyaan kepala penjara kepada Paulus dan Silas ini merupakan sebuah pertanyaan yang aneh. Aneh, mengingat kepala penjara tersebut tidak dalam kondisi bahaya. Lukas dengan detil mencatatkan, bahwa semua tawanan yang ada dalam penjara, termasuk Paulus dan Silas, masih berada di sana dan tidak melarikan diri. Mengingat kondisi ini, maka sungguh mengherankan, jika seorang kepala penjara bertanya, “Bagaimanakah caranya supaya aku dapat selamat?”

Pertanyaan tentang keselamatan ini, sebenarnya didorong dari keheranan atas tindakan “bodoh” Paulus dan para tahanan yang lain, yang tidak menggunakan kesempatan untuk lari. Seharusnya, kesempatan yang ada tersebut menjadi sebuah peluang emas untuk menghindari masalah serta aniaya yang masih mungkin terjadi. Sikap Paulus dan Silas ini membuat sang kepala penjara melihat adanya sebuah jalan keselamatan lain; jalan yang berbeda dari yang ia mengerti atau percayai.


Continue Reading

Perspektif 20 November 2011

Ada Apa Dengan Elia? (2)
Bacaan hari ini: 1 Raja-raja 19:1-18 (lanjutan)
“Jawabnya: Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu... dan mereka ingin mencabut nyawaku.” (1 Raja-raja 19:14)

Dalam renungan sebelumnya, kita melihat bahwa Elia mengalami kelelahan secara fisik, emosi, dan spiritual. Lalu, bagaimana Tuhan menolong Elia ketika dalam keadaan demikian?

Pertama, Tuhan memberikan Elia istirahat. Ketika kecapaian dalam pelariannya, Tuhan mengirimkan malaikat untuk memberi Elia makan dan mempersilahkan Elia untuk istirahat. Demikian pula,

ketika kita kelelahan seperti Elia, kita bersyukur Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk beristirahat; dan waktu untuk mendekat dan memulihkan relasi kita dengan Dia. Maka, ketika kita mendapat kesempatan untuk mengikuti retreat atau acara rohani lainnya, mari kita pakai momen seperti itu untuk mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Selain itu, kita juga perlu memelihara kehidupan bersaat teduh dengan setia.


Continue Reading

Perspektif 19 November 2011

Ada Apa Dengan Elia? (1)
Bacaan hari ini: 1 Raja-raja 19:1-18
“Jawabnya: Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu... dan mereka ingin mencabut nyawaku.” (1 Raja-raja 19:14)

Elia adalah salah seorang nabi besar dalam Perjanjian Lama. 1 Raja-raja 17-18 mencatat banyak hal luar biasa yang Elia lakukan dalam pelayanannya kepada Tuhan. Elia menubuatkan datangnya masa kekeringan sebagai hukuman atas Bangsa Israel. Elia dipelihara Tuhan di tepi sungai Kerit, melalui seorang janda di Sarfat. Dia juga memenangkan pertarungan ketika berhadapan dengan para nabi Baal.

Setelah semua peristiwayang luar biasa ini, tiba-tiba Elia dicatat tidak seperti seorang nabi besar yg baru saja melakukan perbuatan-perbuatan ajaib. Ketika diancam Izebel untuk dibunuh, dia lari. Mengapa Elia takut?


Continue Reading

Perspektif 18 November 2011

Pelaku Firman
Bacaan hari ini: Yakobus 1:19-24
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja...” (Yakobus 1:22)

Apakah yang membuat orang sukses dalam usaha? Karena ia mau mempraktekkan ilmu yang dipelajari, dicoba berulang kali, sehingga berhasil. Sama halnya dengan seseorang mau hidup sehat; ia harus rajin olah raga dan makan secukupnya. Jika hanya makan tidur tanpa olah raga, maka rawan penyakit. Demikian juga kehidupan rohani kita, jangan hanya bisa menyerap firman Tuhan, tapi juga harus menjadi pelaku firman.

Pertama, menjadi pendengar yang baik. Kiat menjadi pelaku firman perlu diawali dengan sikap cepat mendengar, dari pada cepat berkata-kata. Sering kali, seseorang mengucapkan kata-kata yang salah dan tidak tepat sehingga mengundang kemarahan dan sakit hati lawan bicaranya. Banyak mendengar menambah perbendaharaan kata dan membuat seseorang lebih berakal budi. Ia tahu membaca situasi, kapan harus berbicara, kapan harus bertindak. “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan tepat pada waktunya” (Ams. 15:23).


Continue Reading

Perspektif 17 November 2011

Integritas Firman Tuhan
Bacaan hari ini: Mazmur 19:8-13
“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa...” (Mazmur 19:8)

Baru-baru ini kasus korupsi Nazaruddin semakin panas dibicarakan. Pihak polisi dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) penasaran dengan “Nyanyian Nazaruddin” alias koruptor-koruptor yang terlibat di dalamnya. Apa benar ada pihak lain yang terkait, atau Nazaruddin hanya ingin mengaburkan masalah? Perkataan manusia memang sulit dipegang dan dipercaya, mungkin lebih banyak bohongnya dari pada benarnya. Tidak demikian dengan perkataan Allah, “ya dan amin”. Pemazmur menegaskan dan menjamin 100%, bahwa apa yang dikatakan Tuhan, adalah benar.

Setiap perkataan yang diucapkan Tuhan dapat dipercaya semuanya. Itulah ungkapan pemazmur tentang Taurat Tuhan, yang adalah sempurna dan menyegarkan jiwa (Mzm. 19:8). Kata “sempurna” ini artinya, tidak ada kekurangan; tidak ada cacat celanya. Kita tidak perlu meragukan perkataan Tuhan dan tidak perlu dibingungkan, seperti “Nyanyian Nazaruddin” yang membingungkan. Sebaliknya, perkataan Tuhan akan menyegarkan jiwa dan memberi rasa aman karena kesempurnaan perkataan-Nya (Mzm.145:13).


Continue Reading

Perspektif 16 November 2011

Keluhan Orang Percaya
Bacaan hari ini: Roma 8:23-30
“Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” (Roma 8:23)

Keluhan jenis kedua yang Paulus catat dalam ayat 23 adalah keluhan yang keluar dari orang yang sudah diselamatkan dan memiliki Roh Kudus dalam hidupnya. Keluhan ini bisa terjadi karena telah terjadi peperangan rohani yang sangat hebat dalam diri anak-anak Tuhan. Konflik ini dapat digambarkan demikian: “kita mau hidup mencintai dan mentaati Tuhan; tetapi kenyataannya, terasa sulit bagi kita untuk menjalankannya. Kita ingin untuk menjalankan apa yang diperintahkan Tuhan, tetapi terasa tidak mampu.” Mengapa demikian?


Continue Reading

Perspektif 15 November 2011

Keluhan Setiap Makhluk
Bacaan hari ini: Roma 8:18-22
“Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.” (Roma 8:22)

Sejak manusia jatuh dalam dosa, maka sejak saat itu hadir berbagai penderitaan yang membuat hidup manusia menjadi begitu berat dan penuh keluhan. Ini tidak lepas dari kutukan Tuhan kepada Adam dan Hawa: “Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu” (Kej. 3:17-18).

Keluhan setiap makhluk berarti, (tanpa terkecuali, baik orang percaya atau tidak percaya) semua umat manusia takluk di bawah rasa sakit (pain), penderitaan,


Continue Reading

Perspektif 14 November 2011

Pilihan yang Bijak
Bacaan hari ini: Amsal 1:8-10
“Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut.” (Amsal 1:10)

Di tengah banyaknya “peluang” atau “kesempatan” yang kita peroleh hari ini, pernahkah kita memperhitungkannya; apakah itu sebuah “kesempatan”, atau hanyalah “jebakan Iblis.” Mengapa kita perlu memperhitungkannya? Karena, “jebakan” ini bisa saja nampak seperti “kesempatan,” ketika kita “terdesak” oleh kebutuhan yang mendesak.

Seorang dokter Kristen mengisahkan bahwa ia pernah menghadapi kondisi semacam ini; ia melihat “jebakan” sebagai sebuah “kesempatan.” Namun, ia bersyukur kepada Tuhan, pada akhirnya ia dapat melihat, bahwa “jebakan” tersebut, bukanlah kesempatan, tapi “jebakan yang mematikan!”


Continue Reading

Perspektif 13 November 2011

Bijaksana Dalam Hidup
Bacaan hari ini: Amsal 1:1-7
“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” (Amsal 1:7)

Ibarat “sebuah kapal,” kita adalah “nahkodanya.” Ke manakah kita akan membawa kapal kehidupan kita ini? Di tengah kehidupan hari ini, ada banyak “rute kehidupan” yang harus kita lewati, tapi kita butuh Penuntun, yang dapat mengatur arah kehidupan kita, agar kita tidak tersesat. Melalui nasihatnya, Penulis Amsal memberikan kepada kita nasihat agar kita dapat menjalankan kapal kehidupan kita dengan benar.

Pertama, Tuhan adalah Pengatur dan Penuntun hidup kita. Kalimat “takut akan Tuhan” menegaskan kepada kita, bahwa kepada Dia sajalah, kita mau taat. Ketika Alkitab memakai istilah ini, istilah ini selalu berkaitan dengan “seseorang yang hidupnya mengerjakan perintah Tuhan, tidak kurang maupun lebih, tetapi tepat seperti yang Tuhan kehendaki.”


Continue Reading